
Intervensi Bina Diri (IBD) merupakan serangkaian kegiatan pembinaan dan latihan yang dilakukan oleh guru profesional dalam pendidikan khusus, secara terencana dan terprogram terhadap individu yang membutuhkan layanan khusus, yaitu individu yang mengalami gangguan koordinasi gerak-motorik, sehingga mereka dapat melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari, dengan tujuan meminimalisasi dan/atau menghilangkan ketergantungan terhadap bantuan orang lain dalam melakukan aktivitasnya.
Aktivitas kehidupan sehari-hari yang dimaksud diantaranya adalah kemampuan dan keterampilan sesorang dalam aktivitas kehidupan sehari-hari, mulai dari aktivitas bangun tidur sampai tidur kembali. Kegiatan ini dikenal dengan istilah Actifity of Daily Living (ADL).
Dengan adanya perubahan paradigma dalam pendidikan yaitu menuju pendidikan inklusi, maka siswa yang mengalami gangguan gerak-motorik akan dijumpai juga di sekolah-sekolah reguler.
Pelaksanaan IBD yang diberikan kepada Anak Berkebutuhan Khusus bervariasi sesuai dengan hasil dari identifikasi dan asesmen, sehingga program bina diri sifatnya individual. Bagi anak yang mengikuti pendidikan di sekolah reguler dapat bekerjasama dengan SLB terdekat atau Terapis Program dengan PBL untuk mendapatkan bantuan tenaga dalam bidang bina-diri bagi anak-anak yang mengalami gangguan koordinasi-motorik sehingga hasilnya dapat lebih optimal. Kewenangan dalam penanganan dengan PBL adalah profesi bidang para medis yaitu terapis program dengan PBL, namun guru pendidikan khusus dapat memberikan latihan atau pembinaan tersebut melalui layanan bina diri.
KEMAMPUAN BINA DIRI
1. Kebutuhan merawat diri
Kebutuhan merawat diri meliputi kemampuan memelihara tubuh seperti mandi, menggosok gigi, merawat rambut dan memelihara kesehatan dan keselamatan diri seperti melindungi dari bahaya sekitar ataupun mengatasi luka.
2. Kebutuhan mengurus diri
Kebutuhan mengurus diri meliputi memelihara diri secara praktis, mengurus kebutuhan yang bersifat pribadi seperti makan, minum, menyuap makanan, berpakaian, pergi ke toilet, berdandan, serta merawat kesehatan diri.
3. Kebutuhan menolong diri
Kebutuhan menolong diri meliputi memasak sederhana, mencuci pakaian dan melakukan aktivitas rumah seperti menyapu dan lain sebagainya.
4. Kebutuhan komunikasi
Kebutuhan komunikasi meliputi komunikatif ekspresif yaitu menjawab nama dan identitas keluarga dan komunikasi resepti yaitu mampu memahami apa yang disampaikan orang lain.
5. Kebutuhan sosialisasi
Kebutuhan sosialisasi meliputi keterampilan bermain, berinteraksi, partisipasi kelompok, ramah dalam bergaul, mampu menghargai orang , bertanggung jawab pada diri sendiri serta mampu mengendalikan emosi.
6. Kebutuhan keterampilan hidup
Kebutuhan Keterampilan hidup meliputi keterampilan menggunakan uang, keterampilan berbelanja dan keterampilan dalam bekerja.
7. Kebutuhan mengisi waktu luang
Kebutuhan mengisi waktu luang bagi anak tuna grahita dapat berupa kegiatan kegiatan olahraga, seni dan keterampilan sederhana seperti memelihara tanaman atau hewan.
CERAMAH DAN DEMONSTRASI
Rancangan Program Pembelajaran (RPP) yang akan ditampilkan merupakan modifikasi. Jika biasanya program bina diri hanya mengajarkan cara melakukan suatu kegiatan atau ketrampilan maka pada RPP kali ini dimasukkan pengetahuan tentang adab makan dan minum. Perlu ditekankan dalam penggunaan media pembelajaran harus menggunakan media yang benar-benar nyata. Jika guru mengajarkan konsep pisang, maka guru harus benar-benar menunjukkan buah pisang.
Aktivitas kehidupan sehari-hari yang dimaksud diantaranya adalah kemampuan dan keterampilan sesorang dalam aktivitas kehidupan sehari-hari, mulai dari aktivitas bangun tidur sampai tidur kembali. Kegiatan ini dikenal dengan istilah Actifity of Daily Living (ADL).
Dengan adanya perubahan paradigma dalam pendidikan yaitu menuju pendidikan inklusi, maka siswa yang mengalami gangguan gerak-motorik akan dijumpai juga di sekolah-sekolah reguler.
Pelaksanaan IBD yang diberikan kepada Anak Berkebutuhan Khusus bervariasi sesuai dengan hasil dari identifikasi dan asesmen, sehingga program bina diri sifatnya individual. Bagi anak yang mengikuti pendidikan di sekolah reguler dapat bekerjasama dengan SLB terdekat atau Terapis Program dengan PBL untuk mendapatkan bantuan tenaga dalam bidang bina-diri bagi anak-anak yang mengalami gangguan koordinasi-motorik sehingga hasilnya dapat lebih optimal. Kewenangan dalam penanganan dengan PBL adalah profesi bidang para medis yaitu terapis program dengan PBL, namun guru pendidikan khusus dapat memberikan latihan atau pembinaan tersebut melalui layanan bina diri.
KEMAMPUAN BINA DIRI
1. Kebutuhan merawat diri
Kebutuhan merawat diri meliputi kemampuan memelihara tubuh seperti mandi, menggosok gigi, merawat rambut dan memelihara kesehatan dan keselamatan diri seperti melindungi dari bahaya sekitar ataupun mengatasi luka.
2. Kebutuhan mengurus diri
Kebutuhan mengurus diri meliputi memelihara diri secara praktis, mengurus kebutuhan yang bersifat pribadi seperti makan, minum, menyuap makanan, berpakaian, pergi ke toilet, berdandan, serta merawat kesehatan diri.
3. Kebutuhan menolong diri
Kebutuhan menolong diri meliputi memasak sederhana, mencuci pakaian dan melakukan aktivitas rumah seperti menyapu dan lain sebagainya.
4. Kebutuhan komunikasi
Kebutuhan komunikasi meliputi komunikatif ekspresif yaitu menjawab nama dan identitas keluarga dan komunikasi resepti yaitu mampu memahami apa yang disampaikan orang lain.
5. Kebutuhan sosialisasi
Kebutuhan sosialisasi meliputi keterampilan bermain, berinteraksi, partisipasi kelompok, ramah dalam bergaul, mampu menghargai orang , bertanggung jawab pada diri sendiri serta mampu mengendalikan emosi.
6. Kebutuhan keterampilan hidup
Kebutuhan Keterampilan hidup meliputi keterampilan menggunakan uang, keterampilan berbelanja dan keterampilan dalam bekerja.
7. Kebutuhan mengisi waktu luang
Kebutuhan mengisi waktu luang bagi anak tuna grahita dapat berupa kegiatan kegiatan olahraga, seni dan keterampilan sederhana seperti memelihara tanaman atau hewan.
CERAMAH DAN DEMONSTRASI
Rancangan Program Pembelajaran (RPP) yang akan ditampilkan merupakan modifikasi. Jika biasanya program bina diri hanya mengajarkan cara melakukan suatu kegiatan atau ketrampilan maka pada RPP kali ini dimasukkan pengetahuan tentang adab makan dan minum. Perlu ditekankan dalam penggunaan media pembelajaran harus menggunakan media yang benar-benar nyata. Jika guru mengajarkan konsep pisang, maka guru harus benar-benar menunjukkan buah pisang.

