
Pendekatan Bina Diri dan Life Skill (PBL) merupakan suatu pendekatan intervensi yang secara khusus digunakan untuk membantu orang-orang untuk hidup mandiri dengan berbagai kondisi kesehatan yang telah ada. Intervensi ini digunakan sebagai bagian dari program pengobatan untuk orang-orang yang mengidap suatu penyakit, seperti keterlambatan perkembangan sejak lahir, masalah psikologis, atau cedera jangka panjang.
Tujuan utama intervensi PBL adalah untuk membantu meningkatkan kualitas hidup mereka dalam memaksimalkan kemandirian secara keseluruhan untuk kesehatan dalam konteks aktivitas kehidupan sehari-hari. Hal ini membantu klien mendapatkan harapan positif dan tujuan hidup. Terapis bina diri dan life skill membantu klien dari semua kalangan umur, dari anak hingga lansia. Pada klien anak, perhatian lebih diberikan untuk perkembangan kemampuan konsentrasi dan bersosialisasi.
SASARAN PROGRAM DENGAN PBL
Perawatan pribadi. Klien yang menjalani program dengan PBL akan dilatih untuk merawat dirinya meskipun dalam keadaan sakit. Misalnya perawatan diri yang diajarkan seperti makan, mandi, dan berpakaian.
Terapis juga dapat melakukan peninjauan kembali terhadap aktivitas yang mungkin sulit untuk dilaksanakan klien, dan mencoba mencari cara untuk membantu klien melaksanakannya, baik dengan cara sederhana, atau penyelesaian dengan cara baru. Terapis biasanya membagi satu aktivitas ke dalam banyak gerakan kecil dan membantu klien melakukan gerakan tersebut hingga dapat melaksanakan aktivitas tersebut secara utuh.
Program dengan PBL membantu anak maupun orang dewasa agar bisa menjalani kehidupan dengan lebih baik. Intervensi ini dapat sangat berguna bagi penderita beberapa jenis fobia, gangguan hiposensitivitas dan hipersensitivitas sensori, dan masih banyak lagi. Pada anak, program dengan PBL digunakan untuk membekali anak menghadapi situasi sekolah, situasi sosial, memiliki keterampilan dasar untuk hidup bersosial, dan menghadapi perubahan kognitif serta fisik, sehingga ia dapat lebih diterima di lingkungannya.
Gambaran sederhananya, jika anak usia 5 tahun belum bisa masuk Taman Kanak-Kanak tanpa menangis, bermain di tempat umum selalu bersama mamanya, dan belum memiliki kemampuan pratulis yang baik, diberikan simulasi untuk menyiapkan anak belajar hal tersebut.
Sebagai contoh, anak yang takut ketinggian, juga anak yang takut kakinya tidak menapak lantai, diberikan intervensi dengan perubahan ketinggian perlahan. Pengalaman ini dirancang secara positif, bertahap, dan lebih lamban, agar anak merasa nyaman dan input yang masuk dalam tubuhnya tetap positif sehingga tak menakutkan lagi.
Berdasarkan catatan The American Occupational Therapy Association Inc., setelah dokter atau psikolog merujuk seorang anak ke terapis, ada 3 hal yang akan dikerjakan terapis program dengan PBL, yaitu:
Tujuan utama intervensi PBL adalah untuk membantu meningkatkan kualitas hidup mereka dalam memaksimalkan kemandirian secara keseluruhan untuk kesehatan dalam konteks aktivitas kehidupan sehari-hari. Hal ini membantu klien mendapatkan harapan positif dan tujuan hidup. Terapis bina diri dan life skill membantu klien dari semua kalangan umur, dari anak hingga lansia. Pada klien anak, perhatian lebih diberikan untuk perkembangan kemampuan konsentrasi dan bersosialisasi.
SASARAN PROGRAM DENGAN PBL
Perawatan pribadi. Klien yang menjalani program dengan PBL akan dilatih untuk merawat dirinya meskipun dalam keadaan sakit. Misalnya perawatan diri yang diajarkan seperti makan, mandi, dan berpakaian.
- Pekerjaan rumah. Untuk mencapai kehidupan normal sebisa mungkin, klien juga dilatih untuk menjalani aktivitas sehari-hari di dalam rumah seperti membersihkan rumah, memasak, dan berkebun.
- Pengelolaan diri. Untuk membantu klien memiliki kehidupan yang produktif, program dengan PBL juga mengajarkan untuk menyusun jadwal sehari-hari seperti orang-orang pada umumnya.
- Mobilitas. Jika klien berencana mengemudi atau menggunakan mode transportasi lain, program ini akan mengajarkan mereka untuk melakukannya dengan aman. Para terapis bertanggung jawab untuk mengembangkan kemampuan yang perlu dimiliki dalam mengemudi seperti kemampuan menilai, mengambil keputusan, dan berpikir.
- Latihan fisik. Sebagai bagian dari program, latihan fisik juga memiliki andil yang besar dalam program dengan PBL. klien yang menderita penyakit kronik atau dalam tahap pemulihan cedera perlu untuk tetap aktif. Para klien akan dilatih untuk mempertahankan gerakan sendi, kekuatan otot, fleksibilitas, dan postur, dengan cara yang aman dan tidak menghabiskan seluruh energinya.
- Menggunakan alat bantu. Jika klien perlu menggunakan alat bantu seperti gips, penyangga, kursi roda, perlengkapan dengan kendali komputer, dan sejenisnya sebagai bagian dari intervensinya, para terapis juga bertanggung jawab untuk mencari metode alternatif untuk menjalani aktivitas sehari-hari yang mampu dilaksanakan klien; seperti penggunaan sikat gigi elektrik, pembuka kaleng elektrik, keyboard khusus, dan sebagainya. Dengan adanya perkembangan teknologi, peralatan dengan kontrol suara juga dapat digunakan untuk membantu klien yang mengalami gangguan pergerakan.
- Keamanan fisik. Hal ini juga merupakan tugas terapis untuk memastikan keamanan fisik klien dalam lingkungannya. Bila perlu, dapat dilakukan peningkatan keamanan pada hal-hal sederhana seperti meletakan keset yang tidak licin di dalam kamar mandi, gagang atau pegangan di tangga, dan peninggian posisi toilet.
- Rehabilitasi tempat kerja. Elemen intervensi ini difokuskan untuk membantu klien untuk kembali bekerja atau mencari pekerjaan yang cocok dengan kondisi mereka. Pekerjaan klien dapat berupa pekerjaan yang dibayar seperti relawan atau hanya merawat anak. Tugas terapis adalah untuk mengusulkan beberapa pilihan karir, menilai keamanan tempat kerja, menilai peran dan tanggung jawab klien, menilai pekerjaan dan kemampuan klien untuk menjalankannya, menyediakan latihan tambahan jika diperlukan, dan mengedukasi atasan dan teman kerja klien untuk mengerti kondisi kesehatan klien.
- Edukasi untuk keluarga dan pengasuh. Tugas lain dari terapis adalah untuk mengedukasi keluarga dan pengasuh bagaimana merawat dan membantu klien jika dibutuhkan.
Terapis juga dapat melakukan peninjauan kembali terhadap aktivitas yang mungkin sulit untuk dilaksanakan klien, dan mencoba mencari cara untuk membantu klien melaksanakannya, baik dengan cara sederhana, atau penyelesaian dengan cara baru. Terapis biasanya membagi satu aktivitas ke dalam banyak gerakan kecil dan membantu klien melakukan gerakan tersebut hingga dapat melaksanakan aktivitas tersebut secara utuh.
Program dengan PBL membantu anak maupun orang dewasa agar bisa menjalani kehidupan dengan lebih baik. Intervensi ini dapat sangat berguna bagi penderita beberapa jenis fobia, gangguan hiposensitivitas dan hipersensitivitas sensori, dan masih banyak lagi. Pada anak, program dengan PBL digunakan untuk membekali anak menghadapi situasi sekolah, situasi sosial, memiliki keterampilan dasar untuk hidup bersosial, dan menghadapi perubahan kognitif serta fisik, sehingga ia dapat lebih diterima di lingkungannya.
Gambaran sederhananya, jika anak usia 5 tahun belum bisa masuk Taman Kanak-Kanak tanpa menangis, bermain di tempat umum selalu bersama mamanya, dan belum memiliki kemampuan pratulis yang baik, diberikan simulasi untuk menyiapkan anak belajar hal tersebut.
Sebagai contoh, anak yang takut ketinggian, juga anak yang takut kakinya tidak menapak lantai, diberikan intervensi dengan perubahan ketinggian perlahan. Pengalaman ini dirancang secara positif, bertahap, dan lebih lamban, agar anak merasa nyaman dan input yang masuk dalam tubuhnya tetap positif sehingga tak menakutkan lagi.
Berdasarkan catatan The American Occupational Therapy Association Inc., setelah dokter atau psikolog merujuk seorang anak ke terapis, ada 3 hal yang akan dikerjakan terapis program dengan PBL, yaitu:
- Melakukan evaluasi holistik terhadap anak melalui keluarga maupun anak itu sendiri, untuk menentukan tujuan intervensi yang hendak dicapai.
- Merancang intervensi yang akan dilakukan untuk memperbaiki kemampuan anak, sehingga dapat beradaptasi dengan lingkungan.
- Mengevaluasi pasca intervensi untuk memastikan tujuan intervensi telah terpenuhi atau diperlukan rencana intervensi lainnya. Misalnya, ditambahkan intervensi perilaku.

